SULBARNEWS, Pasangkayu – Desa Pakava, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat, kian memantapkan langkah menuju desa wisata unggulan berbasis budaya dan alam.
Keberadaan rumah adat Suku Bunggu yang eksotis, dipadukan dengan potensi wisata buah dan perkebunan, menjadi kekuatan utama yang diandalkan desa ini.
Terletak di wilayah perbatasan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah, Desa Pakava memiliki posisi strategis sebagai kawasan penghubung antarwilayah. Selain menyimpan kekayaan alam yang masih terjaga, desa ini juga dikenal sebagai kawasan pertanian dan perkebunan yang produktif.
Sekitar 50 persen penduduk Desa Pakawa merupakan Suku Bunggu, masyarakat adat yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Hingga kini, mereka tetap mempertahankan tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal, sembari hidup berdampingan secara harmonis dengan berbagai etnis lain seperti Mandar, Bugis, Toraja, dan suku lainnya.
Salah satu ikon budaya yang paling menonjol adalah rumah panggung Suku Bunggu yang berdiri pada ketinggian antara 3 hingga 10 meter di atas permukaan tanah.
Rumah-rumah ini menjadi simbol identitas masyarakat adat sekaligus daya tarik wisata budaya yang unik. Meski sebagian warga telah menempati rumah permanen, masih terdapat kawasan hutan yang dihuni masyarakat adat dan berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan budaya.
Kepala Desa Pakava, Aso M, kepada SULBARNEWS, Sabtu (28/12/2025), mengatakan bahwa kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini diterapkan tidak menyurutkan komitmen pemerintah desa dalam mendorong pembangunan dan pengembangan potensi wisata.
“Di tengah kebijakan efisiensi, kami tetap fokus pada program prioritas. Pengembangan potensi budaya dan alam Desa Pakawa menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Memasuki Tahun Anggaran 2026, Pemerintah Desa Pakawa tetap menjalankan program kerja dengan penyesuaian anggaran. Salah satu program yang direncanakan adalah pembangunan Gerai KDMP Desa Pakava, meski masih menghadapi kendala terkait hibah lahan.
Selain itu, pemerintah desa juga berencana mengusulkan Program Perhutanan Sosial (PS) ke Kementerian Kehutanan pada awal Januari 2026. Usulan tersebut mencakup kawasan seluas sekitar 2.000 hektare yang berada di wilayah Pangalambori, Dusun Moi, Desa Pakava.
Program Perhutanan Sosial diharapkan dapat menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengelolaan hasil hutan bukan kayu. Sejumlah komoditas unggulan seperti durian, rambutan, dan komoditas perkebunan lainnya dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Ke depan, kami ingin menggabungkan wisata buah dengan eksotisme rumah adat Suku Bunggu sebagai ikon Desa Pakava. Konsep ini diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” tambah Aso M.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Barat, A. Aco Takdir, S.Sos., M.Pd, menyambut baik rencana pengusulan Perhutanan Sosial tersebut. Ia menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan melalui skema pengelolaan yang berkelanjutan.
Dengan kekayaan budaya, potensi alam, serta dukungan program kehutanan sosial, Desa Pakawa dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai ikon wisata baru di Kabupaten Pasangkayu yang mengedepankan kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Laporan : FikranZikryRahman
Biro pasangkayu

Komentar