Mamuju – Melalui kegiatan Sipakada Media di Atrium Mall Maleo Town Square Mamuju pada Kamis (24/9/2026), Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Barat memaparkan perkembangan ekonomi daerah. Ekonomi Sulawesi Barat pada Triwulan II 2026 tumbuh positif sebesar 5,20% (yoy) dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga. Pada saat yang sama, Bank Indonesia terus mendorong UMKM lokal naik kelas melalui gelaran Mandarpreneur Fair 2026.
Capaian pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat didukung oleh kinerja dari sisi lapangan usaha maupun pengeluaran:
1.Sektor Konstruksi: Tumbuh pesat 12,90% (yoy) ditopang belanja modal APBN untuk infrastruktur jalan, jembatan, serta gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
2. Administrasi Pemerintahan: Tumbuh 10,34% (yoy) dipengaruhi penambahan jumlah ASN dan penyaluran gaji ke-13.
3. Sektor Pertanian & Industri Pengolahan: Sektor pertanian tumbuh 3,62% (yoy) dan industri pengolahan tumbuh 5,05% (yoy). Pertumbuhan kedua sektor ini sedikit melambat akibat penurunan produksi kelapa sawit/CPO serta dinamika hasil perikanan dan tanaman pangan.
4. Sektor Perdagangan: Tumbuh 5,02% (yoy) seiring penyesuaian arus komoditas dan penjualan kendaraan.
5. Sektor Ekspor & Investasi: Dari sisi pengeluaran, ekspor melonjak 11,51% (yoy) berkat kenaikan harga CPO global. Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 9,11% (yoy) yang didorong oleh realisasi proyek infrastruktur pemerintah dan swasta, termasuk gedung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
6. Konsumsi Rumah Tangga & Pemerintah: Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,41% (yoy) pasca-normalisasi Idulfitri, sedangkan konsumsi pemerintah tumbuh 9,76% (yoy).
Tingkat inflasi Sulawesi Barat pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,29% (yoy) dan 0,11% (mtm). Angka ini berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 3,19% (yoy). Secara spasial, inflasi tahunan Kota Mamuju berada di angka 3,90% (yoy), sedangkan Kabupaten Majene mencatatkan inflasi 1,27% (yoy).
Tekanan inflasi bulanan didominasi oleh komoditas ikan laut akibat faktor cuaca buruk, serta kenaikan harga cabai rawit, pisang, dan telur ayam ras. Namun, laju inflasi berhasil tertahan oleh deflasi pada komoditas tomat, bawang merah, cabai merah, bawang putih, dan beras pasca-panen raya gelombang II.
KPwBI Sulbar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara konsisten mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) melalui program GERAI, pasar murah, dan Kerja Sama Antardaerah (KAD).
Sebagai langkah nyata mendorong ekonomi yang inklusif, KPwBI Sulbar menggelar Mandarpreneur Fair 2026 pada 24–26 September 2026 di Maleo Town Square, Mamuju. Mengusung tema “Malaqbi Berkarya: Tumbuh, Terhubung, Berdaya”, pameran ini merupakan perwujudan ekosistem pengembangan UMKM yang mencakup pilar Mandarpreneur Tangguh, Digdaya, dan BerAKSI.
Rangkaian acara diisi dengan pameran produk UMKM, promosi kopi lokal, live selling, fasilitasi pembiayaan, layanan legalitas, talkshow UMKM hijau, hingga kompetisi desain modest fashion dan wastra. Through program business matching, Mandarpreneur Fair 2026 menargetkan potensi pembiayaan syariah sebesar Rp555 juta serta kerja sama antardaerah senilai Rp3,8 miliar guna memperluas akses pasar dan rantai pasok UMKM Sulawesi Barat.
Sinergi kebijakan antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan mitra strategis akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat yang berkelanjutan.(***)

Komentar